Akhirnya Mesin Waktu Ditemukan!
October 14, 2011
Wah, saya setengah percaya ketika akhirnya mesin waktu (yang diberi nama “The Time Machine”) berhasil ditemukan oleh Dr. Alexander Hartdegen, penemu muda di Universitas Columbia di New York City. Dan parahnya, ke-setengah-percayaan saya itu menjadi luntur setelah saya sadar bahwa itu hanyalah kisah yang dirilis sekitar 9 tahun lalu di bioskop-bioskop kesayangan Anda. tapi, EITS, jangan diclose dulu, saya mengajak kamu untuk terus membaca cerita-cerita saya dibawah terkait mesin waktu.
Mesin Waktu. Banyak hal yang ingin saya lakukan dengan alat itu. Misalnya saja, seandainya saya bisa kembali ke tahun 2005, tepatnya ketika saya mengisi formulir pendaftaran SPMB (sekarang SNMPTN), mungkin saya akan berpikir ulang untuk menghapus kode jurusan yang saya pilih dan masih saya ingat sampai sekarang: 250841 (ya gak perlu disebutkan lah ya jurusan apa
).
Kenapa ingin diganti? Karena saya saat ini merasa berada di track yang salah. Track yang membawa saya ke job desk yang harus saya terima dan lakukan dengan sepenuh hati (atau setengah?). Bukannya saya tidak mensyukuri kerjaan saya lho. Justru dengan saya menjalankan kerjaan saya sekarang, saya merealisasikan rasa syukur saya, bukan begitu? ![]()
Ok, lantas jika memang masa lalu tidak bisa diubah, sekarang mau apa? Saya melihat ada tiga pilihan. Pertama, saya menyesali keadaan dan menyalahkan orang lain terkait “kesalahan” saya 6 tahun silam. Kedua, saya keluar dari kerjaan saya dan melakukan kerjaan yang saya suka dengan sepenuh hati. Ketiga, saya mengarahkan “kesalahan” tersebut ke arah yang menguntungkan, misalnya dengan menyalurkan passion/minat atau bakat saya di bidang yang masih ada kaitannya dengan kuliah saya, atau dengan menyalurkan passion/minat saya di luar jam kerja (bukan sampingan lho, sampingan atau tidak tergantung persepsi pribadi
).
Pilihan pertama saya buang karena itu tindakan yang gak efektif dan buang buang waktu. Pilihan kedua agaknya bagus. Sedangkan pilihan ketiga bisa lebih kompromi karena selain passion saya tersalurkan juga membuat ilmu yang saya dapatkan dalam kurun waktu delapan semester menjadi tidak sia-sia.
Saya pikir banyak orang yang mengalami kasus yang mirip seperti yang saya alami. Beberapa mungkin bisa mengkompromikan antara minat atau bakat dengan latar belakang dia. Misal, kuliah ambil Teknik, tapi minat di Marketing atau Management, maka dia masih bisa bertahan di dunianya, atau ambil jurusan arsitektur, dan minatnya di Sastra dan Bahasa, maka dia bisa mengimplementasikan bakat sastranya di dunia arsitektur. Permasalahannya adalah, jika minat dan bakat seseorang tidak bisa kompromi dengan jurusan yang dia pilih saat ini. Misal, minat kedokteran, tp kuliah di Teknik Informatika (karena ikut-ikutan teman misalnya). Ini bisa berakibat fatal.
Karena itulah saya merasa peduli untuk bergabung dengan sebuah wadah yang peduli dengan masa depan siswa di Indonesia agar mereka berani bermimpi dan tidak salah memilih jurusan, yang bernamaaaa.. MahaMentor.
Penasaran kan apa itu MahaMentor? Klik deh di sini.
MahaMentor
October 14, 2011
Mungkin baru sepersekian persen orang Indonesia yang tahu tentang MahaMentor. Tapi saya yakin suatu saat MahaMentor akan menjadi sorotan publik. Emang Apa sih MahaMentor itu?
Mahamentor, sebuah gerakan aksi sosial yang nyata oleh mahasiswa (Saya masih mahasiswa kan? Paling tidak saya masih merasa
) untuk siswa sekolah menengah atas di seluruh Indonesia, di bidang pendidikan dan motivasi . Kami melatih mahasiswa-mahasiswa Indonesia agar menjadi mentor yang berkompetensi tinggi, sehingga dapat membantu adik-adik mereka yang sedang duduk di bangku SMA. Membantu apa? Agar mereka tidak salah pilih jurusan. Membantu mereka untuk berani bermimpi. Berani menyatakan mereka ingin menjadi apa dalam waktu 10 tahun ke depan.
Salah satu programnya yaitu program tanam mimpi yang diadakan di berbagai SMA. Gerakan ini diadaptasi dari gongsin , Korea yang juga sebagai pendukung utama gerakan ini .
Permasalahannya adalah, apa kita peduli dengan masa depan anak Indonesia? Kalo saya sih, iya. Kamu?
Info lebih lanjut klik http://mahamentor.com/ atau ke nomor 08122489734. Saya tunggu partisipasinya!
Biaya Kuliah ITB per Jam
February 10, 2009
Hm, hari terasa panjang pas nungguin kuliah sistem komunikasi seluler. Tiba-tiba kepikiran, satu pertanyaan yang mana harusnya terbesit tiga setengah tahun lampau: Berapa sih biaya kuliah ITB per jam per orang?
Beda-beda sih tiap anak. Tapi aku ngambil rata-ratanya, dengan masukin jam ujian tentunya (pake pembulatan juga). Setelah aku itung, jawabannya:

Per jam: 7.500 IDR
Per menit: 125 IDR
Per detik: 2 IDR
ini hasil subsidi lho (ops..)
Terus apa yang kita dapet dari angka-angka di atas?
Menurut teori pertukaran yang saya dapetin di kuliah komunikasi pembangunan, hubungan pertukaran dengan orang lain akan menghasilkan suatu imbalan bagi kita. Dalam hal ini, tentu hubungan pertukarannya adalah mahasiswa dan dosen (ama pengawas ujian juga), karena kita bayar dosen, dosen kasi kita ilmu.
Jadi, duit kuliah yang kita bayar di bank itu, bakal ditukar dengan: ilmu (dan fasilitas lain tentu). Dan ilmu yang kita dapetin itu adalah imbalan bagi kita karena kita dah bayar duit kuliah.
Ok, kita bayar berjuta-juta untuk ilmu tiap semesternya. Pertanyaannya adalah, ilmu itu dipake buat apa? Buat gelar sajakah? Buat diabaikan aja hingga kita bebas gak masuk kuliah dan belajar dengan sistem kebut semalam? Buat cari duit aja ampe kaya raya gak ketulungan? Ato untuk dipake buat kepentingan orang banyak yang telah mensubsidi kita?
Give something to the world and the world will give you something.
Elektro atau Telekomunikasi?
January 30, 2009
Minggu ini, anak anak Elektro (subjur Telekomunikasi ama Power) ribut banget ngomongin “Eh kamu pilih Elektro ato Telkom?”, atau “Eh kamu pilih Elektro ato Power?”, dan aku termasuk didalamnya.
Jadi gini, Jurusan Teknik Elektro ITB itu terdiri dari 6 subjurusan: Teknik Tenaga Listrik, Teknik Telekomunikasi, Teknik Elektronika, Teknik Kendali, Teknik Komputer, dan Teknik Biomedika. Dari kisaran 200 mahasiswa EL 2005, 71 memilih Teknik Telekomunikasi, 55 memilih Teknik Tenaga Listrik, sisanya ada yang memilih 4 subjurusan lainnya yang mana sekarang bergabung dalam prodi Teknik Elektro, segelintir lainnya memutuskan untuk drop out karena berbagai alasan. CMIIW.
Nah, entah gimana sababmusababnya, tiba-tiba 2 subjurusan pertama itu memisahkan diri dan membuat program studi baru.
Yang pasti kami semua bingung mo pilih Elektro ato Telkom. Tapi dari semua pendapat yang pernah saya denger, kira-kira beginilah alasan-alasan mereka:
Saya memilih Elektro, karena:
1. “Waktu pertama masuk ITB, saya kan pilih Elektro, bukan Telekomunikasi. Sekali Elektro, tetep Elektro.”
2. “Minat saya selain di Telekomunikasi pun, ada di Elektro Umum, jadi saya pilih Elektro.”
3. “Saya ingin waktu lanjutin kuliah ntar ato pas kerja, saya ingin ngincer gak cuma Telekomunikasi doang.”
Saya memilih Telekomunikasi, karena:
1. “Minat saya emang cuma di Telekomunikasi, gak di yang lain. Saya rasa pindah ke Teknik Telekomunikasi adalah pilihan tepat.”
2. “Memilih Teknik Telekomunikasi menunjang visi hidup saya. Perusahaan Telekomunikasi tentu akan melihat bahwa keahlian saya spesifik, dan ini akan menguntungkan saya.”
3. “Gak mau nambah lagi mata kuliah Elektro yang mana sksnya gak sedikit dan gak begitu nyambung ama Telekomunikasi.”
4. “masalah perusahaan asing, tenang aja karena kebanyakan yang dilihat tu cuman GPA ma almamaternya. Masalah perusahaan non asing, bakal disosialisasikan oleh pihak ITB mengenai prodi baru.”
5. “Saran ortu.”
6. “Emang sih peluang kerja kayaknya jadi lebih sempit, tapi
telekomunikasi juga luas kok. Ada operator, ada vendor, di dalemnya
lagi juga masih ada pembagian lagi berdasarkan teknologinya, lagipula
teknologi telekomunikasi masih akan sangat berkembang, jadi
kenapa enggak? sebagai bentuk tanggung jawab juga atas apa yang gw
udah pilih dan dapet di itb.”
7. “Ya iyalah, masa pilih Telkom tapi malah pilih Elektro yang mana udah gak ada telkom-telkom nya? Ada ada aja.”
8. “Bagi saya akreditasi bukan masalah, karena kita ITB dan STEI lagi, tentu akreditasinya A, dijamin.”
9. “Banyak temen.”
Survei membuktikan 9 dari 10 anak telkom memilih Teknik Telekomunikasi.