Biaya Kuliah ITB per Jam
February 10, 2009
Hm, hari terasa panjang pas nungguin kuliah sistem komunikasi seluler. Tiba-tiba kepikiran, satu pertanyaan yang mana harusnya terbesit tiga setengah tahun lampau: Berapa sih biaya kuliah ITB per jam per orang?
Beda-beda sih tiap anak. Tapi aku ngambil rata-ratanya, dengan masukin jam ujian tentunya (pake pembulatan juga). Setelah aku itung, jawabannya:

Per jam: 7.500 IDR
Per menit: 125 IDR
Per detik: 2 IDR
ini hasil subsidi lho (ops..)
Terus apa yang kita dapet dari angka-angka di atas?
Menurut teori pertukaran yang saya dapetin di kuliah komunikasi pembangunan, hubungan pertukaran dengan orang lain akan menghasilkan suatu imbalan bagi kita. Dalam hal ini, tentu hubungan pertukarannya adalah mahasiswa dan dosen (ama pengawas ujian juga), karena kita bayar dosen, dosen kasi kita ilmu.
Jadi, duit kuliah yang kita bayar di bank itu, bakal ditukar dengan: ilmu (dan fasilitas lain tentu). Dan ilmu yang kita dapetin itu adalah imbalan bagi kita karena kita dah bayar duit kuliah.
Ok, kita bayar berjuta-juta untuk ilmu tiap semesternya. Pertanyaannya adalah, ilmu itu dipake buat apa? Buat gelar sajakah? Buat diabaikan aja hingga kita bebas gak masuk kuliah dan belajar dengan sistem kebut semalam? Buat cari duit aja ampe kaya raya gak ketulungan? Ato untuk dipake buat kepentingan orang banyak yang telah mensubsidi kita?
Give something to the world and the world will give you something.
Elektro atau Telekomunikasi?
January 30, 2009
Minggu ini, anak anak Elektro (subjur Telekomunikasi ama Power) ribut banget ngomongin “Eh kamu pilih Elektro ato Telkom?”, atau “Eh kamu pilih Elektro ato Power?”, dan aku termasuk didalamnya.
Jadi gini, Jurusan Teknik Elektro ITB itu terdiri dari 6 subjurusan: Teknik Tenaga Listrik, Teknik Telekomunikasi, Teknik Elektronika, Teknik Kendali, Teknik Komputer, dan Teknik Biomedika. Dari kisaran 200 mahasiswa EL 2005, 71 memilih Teknik Telekomunikasi, 55 memilih Teknik Tenaga Listrik, sisanya ada yang memilih 4 subjurusan lainnya yang mana sekarang bergabung dalam prodi Teknik Elektro, segelintir lainnya memutuskan untuk drop out karena berbagai alasan. CMIIW.
Nah, entah gimana sababmusababnya, tiba-tiba 2 subjurusan pertama itu memisahkan diri dan membuat program studi baru.
Yang pasti kami semua bingung mo pilih Elektro ato Telkom. Tapi dari semua pendapat yang pernah saya denger, kira-kira beginilah alasan-alasan mereka:
Saya memilih Elektro, karena:
1. “Waktu pertama masuk ITB, saya kan pilih Elektro, bukan Telekomunikasi. Sekali Elektro, tetep Elektro.”
2. “Minat saya selain di Telekomunikasi pun, ada di Elektro Umum, jadi saya pilih Elektro.”
3. “Saya ingin waktu lanjutin kuliah ntar ato pas kerja, saya ingin ngincer gak cuma Telekomunikasi doang.”
Saya memilih Telekomunikasi, karena:
1. “Minat saya emang cuma di Telekomunikasi, gak di yang lain. Saya rasa pindah ke Teknik Telekomunikasi adalah pilihan tepat.”
2. “Memilih Teknik Telekomunikasi menunjang visi hidup saya. Perusahaan Telekomunikasi tentu akan melihat bahwa keahlian saya spesifik, dan ini akan menguntungkan saya.”
3. “Gak mau nambah lagi mata kuliah Elektro yang mana sksnya gak sedikit dan gak begitu nyambung ama Telekomunikasi.”
4. “masalah perusahaan asing, tenang aja karena kebanyakan yang dilihat tu cuman GPA ma almamaternya. Masalah perusahaan non asing, bakal disosialisasikan oleh pihak ITB mengenai prodi baru.”
5. “Saran ortu.”
6. “Emang sih peluang kerja kayaknya jadi lebih sempit, tapi
telekomunikasi juga luas kok. Ada operator, ada vendor, di dalemnya
lagi juga masih ada pembagian lagi berdasarkan teknologinya, lagipula
teknologi telekomunikasi masih akan sangat berkembang, jadi
kenapa enggak? sebagai bentuk tanggung jawab juga atas apa yang gw
udah pilih dan dapet di itb.”
7. “Ya iyalah, masa pilih Telkom tapi malah pilih Elektro yang mana udah gak ada telkom-telkom nya? Ada ada aja.”
8. “Bagi saya akreditasi bukan masalah, karena kita ITB dan STEI lagi, tentu akreditasinya A, dijamin.”
9. “Banyak temen.”
Survei membuktikan 9 dari 10 anak telkom memilih Teknik Telekomunikasi.